SEKOLAH TINGGI TEOLOGI EKKLESIA

...capable but humble...

Blog & Kegiatan

view:  full / summary

Ibadah Kontemporer

Posted by STTE at 07:19 AM on November 30, 2009 Comments comments (0)

 

 

Menyikapi perkembangan ibadah dimasa kini, dimana terdapat banyaknya pandangan mengenai apakah gereja tetap bertahan pada "ibadah tradisional" atau membuka diri mengikuti "ibadah kontemporer". STTE kembali mengadakan Seminar Plus mengenai IBADAH KONTEMPORER, dengan mengundang Pdt. Arif Multi, M.Div (Gembala Sidang GSJA Betlehem - Suryakencana) sebagai narasumber. Peserta: Terbuka untuk mahasiswa S1, S2, dan Umum Biaya & Reservasi: Silahkan hubungi sekretariat di (T) 021-3504957 (F) 021-3449938 (E)stt.ekklesia@ymail.com

Seminar Terbuka (MOTIVATIONAL DAYS)

Posted by STTE at 02:13 AM on November 12, 2009 Comments comments (0)

Kami mengundang para mahasiswa S1, S2, segenap Pelayan Injil dan Aktifis Gereja, untuk menghadiri seminar terbuka yang membahas mengenai motivasi:

 

03 Nov 2009; DARE TO FAIL; (Ev. Benni & Tim "Berkat & Saboga")

 

10 Nov 2009; DARE TO EXCELL; (Pdt. Arif Multi, M.Div. & Tim "No Barrier Worship")

 

17 Nov 2009; DARE TO IMPACT; (Agustinus Dermawan, M.Div & Tim PDKMN)

Creative Children Ministry

Posted by STTE at 01:28 AM on November 12, 2009 Comments comments (0)

 

 

 

 

Tujuan seminar terbuka:

Memperlengkapi peserta dengan berbagai teknik mengajar anak-anak Sekolah Minggu sehingga menjadi lebih kreatif.

 

Peserta:

Kami juga mengundang peserta dari gereja-gereja, para Guru Sekolah Minggu, Para Pelayan Sekolah Minggu, dan para Orang Tua untuk menghadiri kuliah terbuka ini.

Biblical Grandparents (3)

Posted by STTE at 09:48 PM on November 06, 2009 Comments comments (0)

Yakub

Yakub – Pemberi Rohani (the Spiritual Giver)

Kejadian 48:1-22

A. POKOK BAHASAN

1. Apa yang dapat diberikan oleh seorang kakek yang miskin kepada putranya yang telah mempunyai segala sesuatu?

2. Apa yang dapat diberikan seorang kakek kepada anaknya yang sudah lama terpisah?

3. Apa yang dapat diberikan oleh seorang kakek yang fisiknya lemah kepada cucunya?

4. Apa yang dapat diberikan oleh seorang kakek yang sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk diberikan?

B. EMPAT HAL YANG DIKATAKAN OLEH KAKEK KEPADA MEREKA

1. Yakub memberi kesaksian kepada mereka.

“Allah, Yang mahakuasa telah menampakkan diri kepadaku di Lus di tanah Kanaan dan memberkati aku.” (ay 3).

Apakah hal ini merupakan pengalaman Yakub mengenai keselamatan?

“dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan aku dari segala bahaya.” (ay 16)

Apa yang perlu ada dalam sebuah kesaksian?

1. Seperti apa keadaan Saudara sebelum bertobat

2. Apa yang dilakukan Saudara untuk menerima Kristus

3. Bagaimana Saudara diubahkan

2. Yakub memberitahukan Firman Tuhan kepada mereka.

Ia memberitahukan nama Tuhan, Firman Tuhan dan perintah-perintah Tuhan (ay 15)

”Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang.” (ay 15)

3. Yakub memberitahukan empat janji Tuhan kepada mereka (ay 4)

a. Kekayaan “Akulah yang membuat engkau beranak cucu”.

”Behold I will make thee frruitful ”

b. Pengaruh “Akulah yang membuat engkau beranak cucu”.

“ I will multiply thee”

c. Bangsa “dan menjadi sekumpulan bangsa-bangsa”.

”I will make thee a multitude of people.”

d. Negeri ”Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu untuk menjadi miliknya sampai selama-lamanya.”

”I will give this land to thy seed after thee for an everlasting possession.”

4. Yakub bercerita mengenai nenek mereka.

”... pada waktu perjalananku dari Padan, aku kematian Rahel di tanah Kanaan di jalan, ketika kami tidak berapa jauh lagi dari Efrata, dan aku menguburkannya di sana, di sisi jalan ke Efrata – yaitu Bethlehem”

(ay 7).

a. Nenekmu meninggal dunia dalam perjalanan

b. Aku ada disana ketika ia meninggal.

c. Kami hampir tiba di rumah.

d. Ia dikuburkan di pinggir jalan.

C. EMPAT HAL YANG DILAKUKAN OLEH KAKEK UNTUK MEREKA

1. Yakub mengangkat / mengadopsi /mengakui mereka.

“Maka sekarang kedua anakmu yang lahir bagimu di tanah Mesir....., akulah yang empunya mereka; akulah yang akan empunya Efraim dan Manasye sama seperti Ruben dan Simeon”. (ay 5).

Anak-anak itu adalah campuran antara Yahudi dan Mesir.

2. Yakub mencium dan mendekap mereka. Yakub memperlihatkan kasih sayangnya.

” Kemudian Yusuf mendekatkan mereka kepada ayahnya: dan mereka dicium serta di dekap oleh ayahnya”. (ay 10).

3. Yakub meletakkan tangannya di atas mereka.

” Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye – jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung”. (ay 14).

Dalam bahasa Inggris ditambahkan kata ”wittingly” / ”knowingly”, yaitu ”dengan sadar” / ”dengan sengaja”. Kata tersebut menjelaskan bahwa Yakub tahu apa yang sedang ia lakukan.

4. Yakub memberkati cucu-cucunya.

”Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf”. (Ibr 11:21)

Bagaimana memberkati anak-anak:

Langkah 1: Berikan sentuhan

Langkah 2: Berkati dengan kata-kata yang terucap.

Langkah 3: Ucapkan pujian bagi orang yang sedang diberkati. (Kej 49: 9, 14, 21)

Langkah 4: Berikan gambaran mengenai masa depan yang istimewa bagi orang yang sedang diberkati. (Kej 49: 10)

Langkah 5: Beri komitmen yang aktif dalam rangka memenuhi / merealisasikan berkat tersebut.

(contoh: nasehat, pendidikan, bantuan keuangan).

D. EMPAT HAL YANG DIBERIKAN OLEH KAKEK KEPADA MEREKA

1. Yakub memberikan namanya kepada mereka.

Yakub mengadopsi dua anak laki-laki tersebut.

”Akulah yang empunya mereka (ay 5). ”Sehingga namaku serta nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termashur oleh karena mereka,” (ay16)

2. Yakub memberi masa depan dari Tuhan untuk mereka.

”Sehingga mereka bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi”. (ay 16). ”lalu diberkatinyalah mereka pada waktu itu, katanya ”Dengan menyebutkan namamulah orang Israel akan memberkati, demikian: Allah kiranya membuat engkau seperti Efraim dan seperti Manasye.” Demikianlah didahulukannya Efraim dari pada Manasye.” (ay 20)

3. Yakub memberikan kasih-sayangnya kepada mereka.

4. Yakub memberi contoh bagaimana menyembah Tuhan

a. Posisi penyembahan: ” dan ia (Yakub) sujud dengan mukanya sampai ke tanah. (ay 12).

b. Sikap penyembahan : ” Yakub .....lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya. (Ibr 11:21)

E. EMPAT HAL YANG DAPAT DIPELAJARI

1. Kakek harus peduli dengan kondisi rohani dari cucu-cucunya

2. Kakek harus menjadi contoh rohani

3. Kakek harus memberi kesaksian

4. Kakek harus memberi berkat (memberkati) baik secara jasmani maupun secara rohani.

(Sumber: Elmer Towns)

(GSJA CWS RAJAWALI, Kebaktian UMAS, tanggal 22 Agustus 2009)

Biblical Grandparents (2)

Posted by STTE at 09:48 PM on November 06, 2009 Comments comments (0)

NUH

Kej. 9:20-25

A. APA YANG KITA KETAHUI DARI KISAH NUH

 

1. Orang seperti apakah Nuh? “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.”

(Kej 6:9). Nuh adalah orang yang saleh

2. Mengapa Nuh membangun bahtera? “Karena iman, maka Nuh – dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan – dengan taat mempersiapkan bahtera ….. dan karena iman itu ia menghukum dunia” (Ibr 11:7) Ia mendapat petunjuk mengenai adanya penghukuman.

3. Apa pekerjaan Nuh? “Berfirmanlah Allah kepada Nuh …..Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir.” (Kej 6:14) Tukang kayu

4. Bagaimana Nuh memberi peringatan kepada dunia? “Nuh, pemberita kebenaran “

(2 Petrus 2:5) Pengkotbah/pemberita kebenaran

5. Dosa-dosa apakah yang dilakukan manusia pada masa itu? Kej 6 1-13 Menyembah setan

6. Kapan Nuh memasuki bahtera? “Lalu berfirmanlah Tuhan kepada Nuh: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu.”(Kej 7:1).

“Nuh berumur enam ratus tahun, ketika air bah datang meliputi bumi “ (Kej 7:6) Ketika Tuhan memanggil.

Pada waktu Nuh berumur 600 tahun

7. Apa pekerjaan Nuh yang baru setelah air bah? “Nuh menjadi petani; dialah yang mula-mula membuat kebun anggur.” (Kej 9:20) Petani.

8. Apa dosa yang dibuat Nuh? “Setelah ia minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya.”

(Kej 9:21) Nuh berbuat tiga jenis dosa

• Mabuk

• Telanjang

• Tidak menjadi contoh yang baik.

9. Bagaimana Nuh tahu perbuatan Ham? “Setelah Nuh sadar dari mabuknya dan mendengar apa yang dilakukan anak bungsunya kepadanya”. (9:24) • Hikmat khusus

• Mencari tahu. Bertanya atau diberitahu

• Ingatan. Orang mabuk masih dapat mengingat beberapa hal.

B. APA DOSA HAM DAN KANAAN?

1. Melihat. : Maka Ham, Bapa Kanaan itu, melihat aurat ayahnya, lalu diceritakannya kepada kedua saudaranya di luar” (Kej 9:22).

Apa yang salah dengan melihat?

a. Nafsu birahi

b. Penghinaan / ejekan

c. Penolakan terhadap otoritas ayah dari Tuhan

d. Tidak menutupi, dalam hal ini memperlihatkan rasa tidak hormat.

2. Tidak melihat. “Sesudah itu Sem dan Yafet mengambil sehelai kain dan membentangkannya pada bahu mereka berdua, lalu mereka berjalan mundur; mereka menutupi aurat ayahnya sambil berpaling muka, sehingga mereka tidak melihat aurat ayahnya.” (Kej 9:23)

3. Mengapa mengutuk Kanaan?

a. Paling muda. Ham adalah anak bungsu dari Nuh (9:24), dan Kanaan adalah anak bungsu dari Ham (Kej 10:6).

b. Kutukan dari Tuhan. Kutukan itu bukan berasal dari kakek yang sedang “marah”. Karena hanya Tuhan yang tahu mengenai masa depan, Nuh mengutuk berdasarkan hikmat dari Tuhan. Tuhan mengutuk Kanaan untuk apa yang diperbuat oleh Ham dan apa yang akan terjadi pada Kanaan.

c. Nuh mengenali adanya sifat pemberontak dan nafsu jahat. Nuh dan Tuhan melihat suatu kelemahan dari Kanaan dan mengetahui bahwa hal itu akan terjadi secara berkelanjutan.

d. Generasi ketiga selalu mengalami penderitaan yang paling berat.

“terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya.” (Kej 9:25)

4. Kapan kutuk itu terlaksana?

a. Orang-orang Kanaan menjadi orang yang penuh nafsu jahat. (Imamat 18:3)

b. Kutuk itu terjadi ketika Yosua dan Israel menaklukkan Kanaan (Yosua 11: Bagian utara Kanaan direbut , Yos12: Daftar raja-raja yang kalah)

C. PELAJARAN MENGENAI KAKEK YANG BERDOSA

1. Anda tidak pernah terlalu tua untuk berhenti berbuat dosa

2. Anda dapat jatuh pada saat anda merasa sangat kuat. “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! (1 Kor 10:12)

3. Kejatuhan anda membawa akibat buruk bagi keluarga. “Terkutuklah Kanaan”.

4. Anda dapat mengalami kejatuhan meskipun anda sudah dipakai Tuhan dengan luar biasa. Nuh, Elia, Petrus, Daud.

5. Meskipun anda sudah berbuat banyak untuk Tuhan, Tuhan tidak akan mengabaikan/membiarkan dosa yang dilakukan anda pada masa tua.

6. Dosa yang dilakukan oleh seorang kakek atau seorang ayah (nafsu atau pemberontakan) dapat membawa akibat yang menghancurkan bagi cucu.

7. Kemabukan bukanlah suatu dosa yang hanya dilakukan oleh satu orang, juga bukan dosa yang diabaikan/dibiarkan oleh Tuhan.

8. Tubuh kita adalah bait dari Roh Kudus, dan sebagai anak Allah kita haruslah bersikap sopan.

a. Berlaku untuk segala lapisan usia.

b. Berlaku untuk bagian-bagian tubuh yang memiliki daya tarik sex (berpakaian)

c. Berlaku untuk melihat/menonton sesuatu yang berkaitan dengan sex, yang dapat menimbulkan nafsu.

9. Nafsu dan fantasi seksual akan timbul apabila diberi kesempatan.

D. APA YANG PERLU DIKETAHUI OLEH PARA KAKEK DAN CUCU

1. Tuhan menyediakan kemenangan.

”Pencobaan-pencobaan yang kamu alami adalah pencobaan–pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

.(1 Kor 10:13)

2. Tuhan tinggal dalam tubuh kita.

“Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri. Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait roh Kudus yang diam di dalam kamu, roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (1 Kor 6:18-19)

3. Dosa masa tua akan membuat anda tidak layak di hadapan Tuhan. “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. (1 Kor 9:27)

(Sumber: Elmer Towns)

(Dialihbahasakan oleh Inawaty Suwardi, Mitra Gembala GSJA CWS Rajawali).

Biblical Grandparents (1)

Posted by STTE at 09:48 PM on November 06, 2009 Comments comments (0)

Rut 1:1-21

IBU YANG SEMULA BERSIKAP KOMPROMIS

KEMUDIAN MENJADI NENEK YANG SALEH

A. BAGAIMANA NAOMI BERSIKAP KOMPROMIS

1. Naomi bersikap kompromi dalam menentukan prioritas rohaninya.

a. Tidak bertahan dalam kesulitan. ”Ada kelaparan di tanah Israel....” (1:1)

b. Terpikat oleh tanah Moab yang subur (1:1)

c. Meninggalkan Tanah Perjanjian Efrata-Bethlehem-Yehuda (1:1-2)

2. Naomi bersikap kompromis terhadap pengaruh keluarganya. Kedua putranya menikah dengan perempuan Moab yang berbeda imannya (1:4)

3. Naomi mengkompromikan komitmennya kepada Tuhan. Ketika Rut, menantunya ingin mengikuti Naomi, Naomi mengarahkannya supaya kembali kepada para allahnya. ”Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu.” (1:15)

4. Naomi mengkritik pemeliharaan Tuhan kepadanya. ”Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku.” (1:21)

 

 

B. PERTOBATAN NAOMI TAMPAK DALAM TINDAKANNYA

1. Naomi mengakui dan menerima hukuman dari Tuhan. ” Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku”. (1:21)

2. Naomi memberi counseling mengenai silsilah keluarganya. Ketika Rut menceritakan bahwa ia bertemu dengan Boas di ladang, Naomi berkata ”Orang itu kaum kerabat kita, dialah salah seorang yang wajib menebus kita”.(2:20)

3. Naomi memberi counseling mengenai penebusan. “Lalu Naomi, mertuanya itu, berkata kepadanya :”Anakku, apakah tidak ada baiknya jika aku mencari tempat perlindungan bagimu supaya engkau berbahagia?” (3:1)

4. Naomi memberi counseling mengenai kesabaran dan kepercayaan. “Lalu kata mertuanya itu (Naomi):”Duduk sajalah menanti anakku, sampai engkau mengetahui, bagaimana kesudahan perkara itu; sebab orang itu tidak akan berhenti, sebelum diselesaikannya perkara itu pada hari ini juga (3:18)

C. BERKAT BAGI NENEK NAOMI

1. Naomi diberi posisi yang lebih penting dibandingkan Rut dalam Alkitab (Kitab Rut)

a. Perempuan-perempuan itu memberkati Naomi (4:14)

b. Anak itu diakui sebagai keturunan Naomi (4:14)

c. Naomi diberi hak untuk membesarkan anak itu (4:16)

2. Anak itu disebut keturunan Naomi, neneknya (4:17), bukan ayahnya atau kakeknya.

3. Anak itu, Obed, menjadi terkenal di Israel

a. Terkenal artinya, ”namanya dikenal secara luas.”

b. Obed adalah kakek dari Daud.

c. Obed berasal dari dua kata, (1) Obadiah, yaitu penyembah Tuhan, (2) ebed, yaitu hamba. Jadi Obed artinya adalah hamba dan penyembah Tuhan yang sejati.

4. Anak itu memberi makna/tujuan hidup bagi neneknya, Naomi.

a. Naomi pernah berbuat kompromi, tetapi sekarang ia menjadi wanita yang mempunyai iman yang kuat.

b. Naomi sebelumnya tidak mempunyai harapan. Ia berkata kepada Rut; ”Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku; Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki (1:12). Tetapi Tuhan memberikan kepadanya hidup yang baru. ”Dan dialah (Obed) yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau”. (4:15).

c. Naomi sebelumnya tidak memiliki semangat rohani. ”Sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. (1:20). Tetapi Obed menyegarkan masa tuanya ”Dan dialah (Obed) yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih”. (4:15)

5. Naomi dikasihi oleh menantunya. ”Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi :”Terpujilah Tuhan......,sebab menantumu yang mengasihi engkau , perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki.” (4:14-15)

6. Naomi mendapat tanggung jawab untuk membesarkan anak.

a. Naomi diberi kesempatan kedua untuk membesarkan seorang anak laki-laki. Dengan demikian dapat menanamkan pengaruh kepada anak itu.

b. Orang kaya seperti Boas seharusnya mampu membayar seorang pengasuh untuk merawat anaknya, tetapi Boas memilih Naomi.

c. ”Dan Naomi mengambil anak itu serta meletakkannya pada pangkuannya dan dialah yang mengasuhnya.” (4:16)

(Sumber: Elmer Towns)

(Dialihbahasakan oleh Inawaty Suwardi, Mitra Gembala GSJA CWS Rajawali)

Pray More Achieve More (3)

Posted by STTE at 10:35 PM on November 03, 2009 Comments comments (0)

PRAY MORE, ACHIEVE MORE (III)!

(Dan. 10:1-11)

J.H. Bomberger berujar, “The sweetest side of any fruit or vegetable is the side which grows toward the sun.” Pernyataan tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut, “Orang benar yang hidupnya paling bercahaya adalah yang bertumbuh tiap-tiap hari di dalam hadirat Allah.” Inilah orang-orang yang terangnya akan semakin benderang, dan hidupnya akan semakin bercahaya, tidak peduli betapa pun gelap llngkungan di mana dia tinggal dan betapa pun kelam dunia di masa mereka hidup dan melayani.

 

Daniel membuka hari-harinya dengan berlutut dan menerima curahan kasih Allah. Tidaklah mengherankan jika, di mana pun mereka berada, ke mana pun mereka pergi, orang-orang di sekitar mereka mendapatkan sedikitnya percikan kasih sayang Allah, bahkan termasuk para ahli nujum dan pemimpin-pemimpin kafir.

Simaklah doa-doa Daniel dan marilah kita semaksimal menerapkanya dalam kehidupan kita semua.

Ya Allah, Dengarkanlah!

(Dan. 7:1-8 bnd 9:17a)

Banyak orang tua, apalgi pada zaman sekarang ini, yang berteriak sekeras-kerasnya kepada anak-anaknya: “Dengarkanlah apa kata ayah!” Demikian juga guru-guru, tidak kalah keras, berteriak, “Dengarkanlah apa yang saya ajarkan!” Mengapa? Karena semakin banyak anak-anak dan murid-murid yang tidak mau mendengarkan nasihat orang tua dan ajaran guru-gurunya. Kenyataan tersebut ter-refleksi dalam berbagai ungkapan populer di antara kaum muda, umpamanya,

• “suka-suka”

• “peduli amat”

• “EGP—Emang Gua Pikirin”

Semangat ‘cuek’ - ‘atau tidak peduli akan orang lain’ ini bahkan sudah merambah ke usia yang semakin muda, sehingga anak-anak kecil pun beberapa sudah memakai istilah yang sama.

Ada juga anak-anak yang harus berteriak kepada orang tua atau kakek-neneknya. Kali ini, bukan karena tidak mau, melainkan karena orang tua atau kakek dan neneknya tidak lagi mampu mendengar dengan baik karena usia tua. Kita harus berbicara sa-ngat dekat dan berbicara sangat keras, barulah mereka mengerti.

Syukurlah, kita memiliki Allah selalu mau bahkan senang mendengar doa-doa kita. Bagaikan seorang Bapak yang baik yang selalu menyediakan segenap dirinya untuk mendengar anaknya berbicara. Dia juga selalu mampu mendengar doa kita. Telinganya tidak pernah menjadi kurang tajam untuk mendengar karena Dia Allah yang kekal—tidak pernah menjadi tua apalagi terlalu tua.

Setelah mendapatkan satu rangkaian mimpi dan penglihatan tentang kerajaan demi kerajaan yang silih berganti akan menunjukkan kekuasaaan sekaligus kegarangannya, Daniel berseru, “Ya Allah, dengarkanlah!” Demi masa depan yang lebih baik bagi kota Yerusalem, Daniel berseru, “Ya Allah, dengarkanlah!”

Sesungguhnya, keluarga dan kota ini sedang sangat membutuhkan doa-doa kita. Daripada kita berteriak dalam kejengkelan atau dalam arak-arakkan kampanye, lebih baik kita berseru kepada Tuhan, “Ya Allah dengarkanlah: lawat kelaurga dan kota kami!”

Ya Allah, Sinarilah!

(Dan. 7:9-18 bnd 9:17b )

Ketika Daniel berdoa, “Ya Allah . . . Sinarilah tempat kudusmu dengan wajah-Mu,” kemungkinan besar dia teringat akan “doa berkat imam.” Pertama-tama diajarkan langsung oleh Allah sendiri kepada Musa untuk diajarkan kembali kepada Harun dan anak-anaknya sebagai doa baku untuk memberkati orang Israel. Secara lengkap tercantum dalam Bilangan 6:24-26:

Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;

Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya

dan memberi engkau kasih karunia;

Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepada-Mu

dan memberi engkau damai sejahtera.

Bagi mereka yang cermat, pasti langsung teringat bahwa “ucapan berkat” tersebut, sekarang ini, acap kali dipakai oleh banyak gembala untuk memberkati jemaat Tuhan pada akhir kebaktian. Akan tetapi, sebenarnya setiap orang percaya dapat menaikkan doa yang sama untuk bangsanya. Bukankah kita yang telah percaya adalah imamat yang rajani? (Lih 1 Pet. 2:9).

Mungkin sebagian besar dari kita perlu bertobat dari kecenderungan untuk mengeluh dan mencemooh bangsanya sendiri. Jauh lebih bermanfaat jika saya dan Saudara mulai belajar untuk menaikkan doa berkat bagi bangsa kita yang terkasih justru di saat keadaannya tidak sebaik yang kita harapkan. Bukankah itulah yang dilakukan Daniel bagi bangsanya ketika keadaan sangat buruk karena sedang mengalami penjajahan dan pembuangan serta perbudakan? Tennyson bersaksi: More things are wrought by prayers than this world dreams of.

Allah, dengan tegas, berkata: “Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka” (Bil 6:27). Sudah saatnya saya dan Saudara untuk meletakkan nama Yesus atas ’orang Indonesia’ - apa pun latar belakang ras dan sukunya supaya Tuhan memberkati.

Ya Allah, Ampunilah!

(Dan. 7:19-28 bnd 9:19b)

Orang Indian belum mempunyai abjad tertulis ketika dikenal pertama kali oleh orang kulit putih. Mereka mempunyai bahasa yang sangat primitif, tetapi perbendaharan kata lisan mereka dapat dikatakan sama banyaknya dengan perbendaharaan kata orang Inggris dan Jerman. Seringkali mereka justru mempunyai istilah yang jauh lebih hidup untuk kata-kata tertentu. Sebagai contoh kata “sahabat” dalam bahasa Indian adalah “seseorang yang bersedia menanggung kesedihanku di pundaknya—one-who-carries-my-sorrows-on-his-back.” (United Church Obrserver).

Daniel tidak tahu istilah Indian untuk sahabat, tetapi dia telah menempatkan diri sebagai sahabat rohani bagi pemimpin-pemimpin bangsa Israel. Walaupun Daniel berhasil mempertahankan kehidupan yang benar, bahkan sangat diberkati dan menjadi berkat di Babel. Akan tetapi, dengan sungguh, dia berseru dalam doanya, “Ya Tuhan, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah menjadi malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau” (Dan 9:8). Itulah sebabnya, Daniel berseru dari kedalaman hatinya, “Ya Allah, Ampunilah!”

Mungkin banyak di antara kita perlu bertobat dari kecenderungan untuk mendaftarkan kekurangan, kelemahan, kesalahan dan kebobrokan para pemimpin bangsa klita sendiri. Jauh lebih bermanfaat jika kita ‘mengidenfikasi’ diri kita dengan mereka, seperti Daniel mengidentifikasi dirinya dengan para pemimpin bangsa Israel. Lalu dengan sungguh, kita mulai memohon pengampunan Allah, sehingga dengan iman kita meletakkan pengharapan supaya pemimpin-pemimpin bangsa kita Indonesia di masa depan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tentunya, kita tidak akan menemukan pemimpin bangsa yang sempurna karena mereka juga manusia. Paling tidak, kita dapat beriman dan berharap munculnya pemimpin-pemimpin yang lebih baik dari sebelumnya dan semakin baik.

Ya Allah Perhatikanlah!

(Dan. 8:1-14 bnd 9:19c)

Daniel, pada pasal 8 ini, melihat domba jantan bertanduk dua dikalahkan oleh kambing jantan bertanduk satu. Siapakah mereka? Mereka adalah kerajaan Media Persia dan Yunani.

Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Babelonia ditaklukkan oleh kerajaan Media-Persia. Kerajaan Media-Persia, kemudian, ditaklukkan oleh kerajaan Yunani, di bawah pimpinan seorang raja brillian-Aleksander Agung. Dalam garis raja-raja Yunani, salah satunya bernama Antiokhus Epiphanus, yang kelak akan mecemarkan Bait Allah. Salah satu tradisi bahkan menyebutkan bahwa dia membawa masuk patung dewa Zeus ke dalam Bait Allah Lih Dan 8:9-12).

Daniel pun berseru dalam doanya, “Ya Allah, perhatikanlah!” Perhatikan apa? Ada banyak tentunya, tetapi yang terutama: Bait Allah supaya kembali ada penyembahan yang benar. Dalam bahasa kontemporer: “Supaya Gereja mengalami kebangunan rohani!”

Beberapa wartawan turun dari London untuk mengumpulkan laporan pandangan mata tentang kebangunan rohani Welsh pada pergantian abad 19 ke abad 20. Ketika mereka sampai di Wales, salah satu bertanya kepada polisi, di mana kebangunan rohani Welsh terjadi. Dengan kepala tegak dan wajah berseri-seri, polisi itu menjawab dengan ramah dan sungguh-sungguh, sambil meletakkan tangannya di dada, “Tuan-tuan, kebangunan rohani Welsh, terjadi di balik seragam ini!”

Pada suatu hari, Gypsy Smith ditanya, bagaimana memulai suatu kebangunan rohani? Dia menjawab, “Pulanglah ke rumah, kuncilah dirimu di sebuah ruangan, dan berlututlah. Setelah itu, buatlah satu lingkaran di sekitar dirimu dan mintalah kepada Allah untuk memulai kebangunan rohani di dalam lingkaran tersebut. Ketika Dia sudah menjawab doamu, kebangunan rohani sudah dimulai!” Sesungguhnyalah, gereja membutuhkan kebangunan rohani dan itu dimulai di dalam diri masing-masing orang percaya.

Ya Allah, Bertindaklah!

(Dan. 8:15-27 bnd 9:19c)

“Saya rindu Saudara-saudari untuk menyediakan sedikitnya 15 menit untuk berdoa setiap hari untuk misi,” himbau seorang gembala kepada jemaatnya. “Akan tetapi,” lanjutnya, “Bersiaplah-siaplah karena engkau harus siap membayar harganya.”

“Bayar harga?” mereka bertanya dengan terkejut.

“Ya, bayar harga,” jawab sang gembala, “Ketika Carrey berdoa untuk pertobatan bangsa-bangsa, dia bayar harga, de-ngan menyerahkan seluruh hidupnya untuk misi.

Ketika Brainerd berdoa untuk keselamatan orang-orang kulit hitam, maka dua tahun kemudian, dia pun menyerahkan hidupnya untuk melayani mereka.

Dua orang pelajar di dalam sekolah musim panas Moody mulai berdoa agar Tuhan mengirimnkan lebih banyak hamba-Nya untuk menuai jiwa-jiwa; dan lihatlah, tahun-tahun berikutnya, sekitar 5000 pemuda-pemudi Amerika menerjunkan diri dalam penuaian.

Yakinkan dirimu bahwa Allah tidak pernah menunda-nunda untuk bertindak dalam menjawab doa untuk kemajuan pekerjaan Tuhan asalkan si pendoa bersungguh-sungguh, yaitu siap bayar harga. Tidak seorang pun dapat berdoa dengan sungguh dan menolak untuk terlibat dalam pelayanan, atau berdoa sambil menggengam uangnya erat-erat.

Ketika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh, maka dia siap menyerahkan segala kepemilikan dan keberadaan dirinya untuk dipakai oleh Tuhan. Sesungguhnya, acap kali Allah bertindak dengan melibatkan seoptimal mungkin si pendoa untuk memenuhi jawaban doanya. Itulah yang telah dilakukan-Nya terhadap Daniel, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan Yohanes serta tokoh-tokoh Alkitab yang lain. Maukah Saudara berdoa dan dipakai Tuhan sampai bangsa-bangsa dipenuhi kemuliaan-Nya?

Ya Allah, Biarlah Amarah-Mu Segera Berlalu!

(Dan. 9:1-19)

Kisah tentang bagaimana jemaat Tuhan dijamah oleh khotbah Jonathan Edwards berjudul, “Orang Berdosa di Tangan Allah yang Marah” dikenal luas oleh masyarakat.

Edwards mempunyai catatan khotbah yang dipegang begitu dekat dengan wajahnya, sehingga sebagian besar jemaat tidak dapat melihat wajah pengkhotbahnya. Dia terus menyampaikan Firman Tuhan sampai jemaat yang berdesak-desakan di gereja tersebut memberikan tanggapan yang luar biasa.

Salah satu berlari ke altar dan berteriak, “Ya Allah, nyatakan belas kasihan-Mu!” Beberapa menggenggam erat sandaran kursi seolah-olah takut terjatuh ke dalam sebuah lubang. Sebagian besar berpikir bahwa penghakiman akhir telah dinyatakan atas kehidupan mereka. Kuasa yang mengalir dari khotbah tersebut masih dapat dirasakan di Amerika sampai sekarang ini.

Akan tetapi, rahasia mengalirnya kuasa dari khotbah tersebut hanya diketahui oleh beberapa orang Kristen saja. Sebenarnya, beberapa orang percaya di kota Enfield, Massachussets telah mendapatkan peringatan dari Tuhan: Betapa besar amarah-Nya terhadap masyarakat yang terus menerus hidup di dalam dosa yang bahkan semakin parah. Mereka, kemudian, bersatu hati dan berdoa, bergumul, bahkan meratap dengan sungguh-sungguh supaya Allah berkenan untuk melalukan amarah-Nya dan kembali mencurahkan kasih sayangnya. Mereka terus berdoa sampai satu malam sebelum kebangunan rohani itu dimulai. Certita selanjutnya, sudah diketahui umum.

Alkitab sangat konsisten dalam mengungkapkan sikap Allah terhadap dosa. Tidak pernah dipakai unsur pelembut atau penghalus atau pewangi. Dosa itu najis. Dosa itu menjijikkan. Dosa itu menimbulkan murka Tuhan. Kesadaran itulah yang mendorong Daniel untuk berdoa dengan sungguh agar Allah segera melalukan amarah-Nya atas pemimpin dan rakyat Israel. Dengan iman yg teguh bahwa janji pemulihan-Nya segera akan digenapi.

Ya Allah, Curahkanlah Kasih Sayang-Mu!

(Dan. 9:20-27)

Ketika Billy Sunday bertobat pertama kali dan bergabung di sebuah gereja, salah seorang jemaat memeluk bahunya dan berkata,

William, ada tiga aturan sederhana yang dapat saya berikan kepadamu, dan jika engkau tetap memegangnya dengan teguh, maka engkau tidak akan pernah mundur apalagi meninggalkan Tuhan.

Ambillah minimal 15 menit setiap hari untuk mendengar Allah berbicara kepadamu; 15 menit yang lain untuk engkau berbicara kepada Allah; dan 15 menit yang lain lagi untuk menceritakan tentang Allah kepada orang lain.

Petobat muda yg baru ini sangat terkesan dan berketapan untuk menjadikan tiga aturan sederhana tersebut sebagai prinsip hidupnya. Sejak hari itu dan seterusnya di sepanjang hidupnya, Billy membuka hari-harinya bersama dengan Allah dan Firman-Nya. Sebelum dia membaca sebuah surat atau melirik surat kabar atau membaca telegram, dia membaca Alkitab terlebih dahulu. Dia pastikan bahwa kesan dan pesan pertama yang dia dapat pada hari itu adalah langsung dari Allah.

Pada tahun 1923, dunia mendaftarkan ada 7 orang paling kaya dan paling sukses di dunia.

1. Charles Schwab—presiden perusahaan logam terbesar.

2. Arthur Cutten-pengusaha gandum terbesar.

3. Richard Whitney– presiden Bursa Efek New York.

4. Arbert Fall—anggota cabinet kepresidenan.

5. Jesse Livermore– pialang terbesar di Wall Street.

6. Leon Fraser-presiden “Bank of International Settlement.

7. Ivar Krueger– kepala monopoli dunia.

Akan tetapi, 27 tahun kemudian, inilah nasib mereka:

1. Charles Schwab: mati dengan meninggalkan hutang.

2. Arthur Cutten: mati tanpa diketahui makamnya.

3. Richard Whitney: baru saja keluar dari penjara Sing Sing.

4. Arbert Fall: mati tak lama setelah keluar dari penjara.

5. Jesse Livermore: mati bunuh diri.

6. Leon Fraser: mati bunuh diri.

7. Ivar Krueger: mati bunuh diri.

Satu demonstrasi yang kuat sekali akan kenyataan bahwa orang yang yang hidup semata-mata untuk mencari kekayaan dan kekuasaan, justru akan kehilangan segala sesuatu.

Sekarang, lihat kehidupan Daniel. Dia tidak pernah mengejar kekayaan dan kekuasaan. Kemegahan dan kemewahan justru yang mengejar Daniel—dari sejak usia 20 tahun pada masa Nebukadnezar, sampai sekarang berusia 90 tahun di bawah kepemimpinan Darius dari Media sebagai raja wilayah Babelonia dan Koresh dari Persia sebagai kaisar. Mengapa? Karena Daniel selalu mencari Tuhan!

TAHUN USIA TAHAPAN

KEHIDUPAN LINGKUNGAN

605 SM 20 th Tawanan perang (Daniel 1) Nabopolasar

600 SM 25 th Lulus dari perguruan tinggi istana sebagai siswa terbaik. (Daniel 1) Nebukadnezar

( di awal pemerintahannya )

590 SM 35 th Penafsir mimpi raja yang terbaik (Daniel 2) Nebukadnezar (mulai mereguk berbagai kemenangan dlm peperangan)

580 SM 45 th Kepala orang bijaksana di Babel

(Daniel 3)

Nebukadnezar

(mulai membangun kembali kota Babel)

570 SM 55 th Penafsir dan penasihat raja yang terbaik

(Daniel 4)

Nebukadnezar

(Di puncak kejayaannya)

560 SM 65 th Saksi akan penggenapan nubuatan Tuhan Nebukadnezar

(Dihukum, dipulihkan untuk sesaat, lalu mati)

550 SM 75 th Tidak dilibatkan dalam pemerintahan, tetapi lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga mendapatkan berbagai mimpi dan penglihatan tentang kedaulatan Allah atas kerajaan-kerajaan di bumi (Dan 7-8) Evil Merodakh

Neriglissar

Labashi Marduk

Nabonidus

(silih berganti berebut takhta kerajaan Babelonia)

Belsazar

540 SM 85 th •Menafsirkan penglihatan dan menubuatkan penghukuman Tuhan (Daniel 5)

•Menjadi pejabat tinggi untuk wilayah Babelonia (Daniel 6)

Belsazar

(Takhta dan kerajaan Babelonia ditaklukkan oleh raja Media-Persia)

Darius

(sebagai gubernur Babelonia)

530 SM 95 th •Menjadi pendoa syafaat bagi pembaharuan dan pemulihan bangsa Israel (Daniel 9)

•Mendapatkan wahyu dari Tuhan tentang masa depan dunia, masa depan bangsa Israel, bahkan tentang datangnya kerajaan Allah di bumi dan tentang akhir zaman (Daniel 10-12)

Koresy

(kaisar Media-Persia yang digerakkan Tuhan untuk menggenapi nubuat kepulangan bangsa Israel ke Yerusalem Bnd Ezr 1)

Dari sejak muda dan belum memiliki apa-apa sampai sekarang usianya sudah sangat lanjut dengan segala sesuatu praktis telah dia miliki sebagai pejabat tertinggi, Daniel tetap mencari Tuhan dengan segenap hatinya. Selama lebih dari tiga minggu, “makanan sedap” tidak disentuhnya, daging dan anggur tidak dicicipinya, air mandi pun tidak mengenai tubuhnya (ay 2-3).”

Saudara-saudariku, camkanlah: jika kita hanya mencari berkat, kita mudah melupakan Tuhan. Sebaliknya, jika kita tekun mencari Tuhan, Dia tidak pernah lupa melimpahkan berkat-Nya. Daniel mengingatkan kembali rumus yang sangat simple tapi penting dan berhasil guna: Pray More, Achieve More! Sesuai dengan teladan Daniel, baiklah kita mengembangkan kehidupan yand ditandai dengan kenyataan penting: Semakin bertambah usia kita, semakin banyak kita berdoa, sehingga semakin banyak pencapaian yang memuliakan Tuhan dan memberkati banyak orang.

Janganlah kita hidup dengan PARADIGMA TERBALIK: mudah sekali berpuas diri dengan pencapaian sekecil apapun, tetapi sulit sekali mencukupkan diri dengan penghasilan sebesar apa pun. Baiklah kita hidup dengan PARADIGMA TERBAIK: tidak pernah berpuas diri dengan pencapaian sebesar apapun, tetapi mampu mencukupkan diri dengan penghasilan berapa pun juga. Dengan demikian, Tuhan yang tidak terbatas dapat terus memakai kita semakin heran dan luar biasa!!

Pray More Achieve More (2)

Posted by STTE at 10:35 PM on November 03, 2009 Comments comments (0)

PRAY MORE ACHIEVE MORE (II)

(Daniel 9:1-4)

Pada suatu kali, William Carrey ditegur oleh atasannya karena berdoa terlalu lama, sehingga dianggap ‘melalaikan pekerjaannya. Dia menjawab bahwa menjumpai Allah, mengucap syukur, berdoa syafaat itu jauh lebih penting daripada mengumpulkan harta di bumi. “Berdoa adalah pekerjaan utama saya!” katanya, “Membuat sepatu dan memperbaiki solnya adalah pekerjaan sampingan, sekedar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.”

Lihatlah kemudian bahwa nama William Carrey, sekarang ini dan sampai selamanya, tercatat dalam sejarah gereja, dengan tinta emas, sebagai missionary yang dipakai Tuhan luar biasa di Birma dan India.

Itulah juga yang sebenarnya diajarkan oleh Daniel melalui kehidupannya, yaitu:

BERLUTUT UNTUK BERDOA

Adalah LANGKAH TERBESAR SEORANG SAKSI TUHAN

Satu kebenaran yang bersifat paradoks. Di satu sisi disebut “langkah terbesar” tetapi menunjuk kepada posisi “berlutut untuk berdoa”. Akan tetapi itulah kenyataannya. Dalam posisi berlutut untuk berdoa seorang saksi Tuhan dapat pergi ke mana pun juga.

DOA DAPAT MEMBAWA KITA KE TAKHTA ALLAH (Dan 9:1-4)

Seorang ilmuwan yang besar dan penuh dedikasi, Sir Issac Newton, berkata:

“Saya dapat mengambil teleskop dan melihat jutaan kilometer ke angkasa. Akan tetapi, saya dapat menaruhnya, pergi ke kamar, menguncinya, lalu berlutut untuk berdoa; maka saya dapat melihat lebih banyak tentang Surga dan lebih dekat kepada Allah. Jauh lebih baik dari semua teleskop dan peralatan-peralatan lain dapat lakukan, doa menolongku untuk melihat Surga dan menjumpai Allah.”

Bukankah ada sebuah lagu indah berjudul, “Yesus hanya sejauh doa?” Pertanyaannya, jika kita bersedia untuk berlelah-lelah dan membayar mahal untuk pergi ke Bali atau ke Hongkong atau ke Paris, mengapakah kita tidak ada antusiasme untuk mengunjungi Surga yang dapat dicapai cukup dengan berlutut dan berdoa?

Telusurilah, betapa seringnya Daniel mengarahkan mukanya kepada Tuhan. Tidaklah mengherankan jika Daniel tidak silau dengan harta dan tahta yang menggelimangi dirinya. Mengapa? Daniel dapat melihatnya dari sudut pandang Allah ketika dia mengunjungi takhta Allah. Bagi Nebukadnezar, kekayaan dan kekuasaan itu tampil dalam segala kemegahan seperti sebuah patung berkepala emas (Lih Dan 2). Akan tetapi, bagi Daniel, kerajaan dunia dalam gelimang kekayaan dan kekuasaan tampil sebagai binatang-bintang buas pada waktunya akan dibinasakan oleh Allah (Lih Dan 7).

Dengarlah nasihat Daniel agar Saya dan Saudara dapat tetap menjadi terang walaupun di sekitar kita gelap dan menekan, “When the outlook is bad, try the uplook!” Jika kita terus menerus memandangi sekitar kita, pastilah kita akan kecewa, kuatir, takut, stress atau bahkan depressi. Padahal Rumah Sakit Jiwa (RSJ) dan kerabat-kerabatnya, yaitu Rumah Sakit Stress (RSS) dan Rumah Sakit Depresi (RSD) sudah penuh. Oleh karena itu, sering-seringlah untuk memandang kepada Allah di Surga dan nikmatilah tetesan atau curahan damai sejahtera, sukacita dan kuasa Surgawi.

DOA DAPAT MEMBAWA KITA KE UJUNG-UJUNG BUMI (Dan 9:5-7)

Sandra Goodwin telah mengguratkan satu puisi yang indah:

Tadi malam Saya melakukan satu perjalanan

ke sebuah sebuah pulau di sebrang lautan;

Saya tidak menggunakan pesawat atau pun perahu,

saya mengunjunginya dengan berlutut.

Saya melihat di sana ada banyak sekali orang

yang hidup di kedalaman dosa yang terdalam

Yesus memintaku untuk pergi

karena ada banyak jiwa

yang perlu dimenangkan.

Akan tetapi aku berkata, “Aku tidak dapat pergi

dan bekerja di tengah keadaa seperti ini.”

Dengan cepat, Dia menjawab, “Ya, engkau dapat

mengerjakannya dgn melakukan perjalanan

di atas lututmu . . .”

Yesus melanjutkan,

“Engkau berdoa; Aku akan memenuhi kebutuhan,

Engkau berseru, Aku akan menjawab;

Milikilah kepedulian terhadap jiwa-jiwa yang terhilang,

Baik yang dekat maupun yang jauh.

Maka saya mencobanya,

Saya berlutut untuk berdoa,

Dengan meninggalkan beberapa kegiatan

yang tidak berguna

Saya merasakan kehadiran Tuhan tepat di sisiku

ketika saya melakukan perjalanan dengan lututku

Sementara saya bertekun dalam doa,

saya melihat jiwa-jiwa diselamatkan

dan orang-orang sakit disembuhkan.

saya melihat hamba-hamba Tuhan kekuatannya dipulihkan

sehingga dapat melanjutkan kembali pelayanannya.

Ya Tuhan, saya mempunyai pelayanan tetap,

Dengan penuh kerinduan untuk menyenangkan-Mu,

Saya dapat pergi dan menunaikan panggilan-Mu

Dengan melakukan perjalanan di atas lututku.

Sekarang kita telusuri saja ke mana saja dan kepada siapa saja Daniel melakukan perjalanan di atas lututnya:

Ya Tuhan, Engkaulah yang benar,

tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini,

kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem

dan segenap orang Israel,

mereka yang dekat dan mereka yang jauh,

di segala negeri ke mana

Engkau telah membuang mereka

oleh karena mereka berlaku murtad terhadap Engkau.

Ya Tuhan, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami

dan bapa-bapa kami patutlah kami malu,

sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau

(ay 7-8)

Marilah Saudara-saudariku, jangan ada yang ketinggalan, ambillah langkah terbesar mulai dari hari ini dan seterusnya yaitu dengan melakukan perjalanan di atas lutut kita. Dengan demikian, dalam satu arti, kita semua telah menunaikan amanat agung, untuk menjadi saksi Kristus sampai ke ujung-ujung bumi; untuk menjadikan sekalian bangsa murid Tuhan.

Panjatkanlah doa di bawah ini sebagai doa kita bersama:

Jadikan saya pendoa yang gigih

yang sungguh-sungguh dapat berdoa

yang selaqlu ingat akan Tuhan

siang maupun malam

Jadikan saya pendoa yang gigih

Di dalam Roh, dijamah oleh Tuhan

Dan berikanlah kami penglihatan Surgawi

dan ketekunan untuk berdoa

sampai meraih kemenangan

Jadikan saya pendoa yang gigih

bersekutu dalam kematian dan kebangkitan-Mu,

berdoa mendukung saudara-saudari yang lain

sampai mereka meraih kemenangan

Jadikan saya pendoa yang gigih

yang bersedia untuk mati lebih dalam

dikosongkan, dipecahkan,

lalu dipenuhi dengan nafas kehidupan

dan dijadikan baru,

Jadikan saya pendoa yang gigih

Singkapkanlah perkara-perkara besar bagiku,

berbagai kemungkinan ajaib

untuk memuliakan Rajaku.

Jadikan saya pendoa yang gigih

walau tersembunyi, tak dikenal dan tak dihargai

bahkan dipandang tak berarti

oleh orang-orang sekitar

yang penting saya memuaskan hati Tuhan.

Pray More Achieve More (1)

Posted by STTE at 10:16 PM on November 03, 2009 Comments comments (0)

Daniel 1 :1-8

Kitab Daniel sangatlah kaya dengan petunjuk rohani, dan akan sangat memberkati setiap orang yang mempelajarinya dengan sikap berdoa. Kitab ini menunjukkan, pertama-tama bagaimana mereka yang percaya kepada Allah dapat mengambil posisi di tengah masyarakat sedemikian rupa, sehingga di satu sisi mereka berpartisipasi dalam pergumulan kontemporer dan di sisi lain tetap hidup benar di mata Allah. Dengan demikian, mereka mempermuliakan Allah dan memberkati sesama. Pria dan wanita seperti inilah yang dibutuhkan bangsa-bangsa pada zaman ini.

 

Pengumuman, dibutuhkan oleh bangsa ini: Orang percaya yang bukan hanya luas PENGETAHUANNYA, atau tinggi KETRAMPILANNYA, melainkan - lebih penting dari semuanya itu, memiliki KARAKTER YANG UNGGUL. Pengetahuan dapat digali diberbagai sekolah, mulai dari sekolah yang serius sampai yang komersil, sehingga beberapa orang dapat mengoleksi berderet gelar. Ketrampilan dapat diasah melalui berbagai kursus, mulai dari kursus intensif sampai kursus yang instant, sehingga beberapa dapat mengoleksi bertumpuk sertifikat. Akan tetapi, karakter yang unggul hanya dapat ditumbuhkembangkan melalui hubungan yang intim dan berkesinambungan dengan Allah.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mampu mewujudkan rencana Allah dan mengubahkan komunitas di mana mereka tinggal lebih dikarenakan keunggulan karakter mereka. Mereka mengingatkan setiap orang percaya bahwa

• Semakin bertambah usia kita, semakin banyak kita perlu berdoa!

• Semakin banyak kita berdoa semakin banyak pencapaian yang kita torehkan !!

Daniel juga menggarisbawahi:

Pencapaian yang terwujud melalu doa itu dimulai dari dalam baru keluar

(Inside Out Achievement)

Itulah sebabnya, janganlah perhatian kita langsung melompat kepada pencapaian-pencapaian lahiriah seperti tingginya takhta atau melimpahnya harta Daniel dan kawan-kawannya. Sebenarnya, yang lebih menentukan seberapa besar pencapaian hidup seseorang bukanlah jabatannya dalam organisasi, bukan pula jenis karunia Roh-nya, dan bukan juga banyaknya gelar yang disandangnya, melainkan keunggulan karakternya. Baiklah kita belajar untuk menumbuhkembangkan sedikitnya 7 karakter unggul.

Ber-Integritas

Dari sekian banyak pangeran dan pemuda bangsawan Israel, Daniel dan ketiga temannya juga terpilih untuk dididik agar kelak melayani di istana Babel. Mengapa? Aspenas memilih, sebagaimana masyarakat kontemporer sekarang ini, karena mereka memiliki tiga “C”: cakep, cerdas dan cekatan (Lih. Ay 4). Akan tetapi, jika memang Tuhan lah yang menyerahkan Yoyakim dan sebagian dari perkakas Bait Allah (ay 2), maka Tuhan jugalah yang ‘menyerahkan’ Daniel dan ketiga kawannya ke dalam tangan Nebukadnezzar. Tentunya untuk satu maksud yang mulia.

Mengapa Allah memilih mereka dan bukan yang lain? Pastilah bukan sekedar karena keunggulan fisik dan inteligensia serta ketrampilannya, melainkan karena keunggulan karakter mereka. Yang terutama dari semua yang lain: mereka adalah anak Tuhan yang berintegritas! Oswald Sanders mengutip pernyataan seorang pengusaha terkemuka, “If I had to name of most important quality of a top manager, I would say, “personal integrity” - sincere in promise, faithful in discharge of duty, up right in finances, loyal in service, honest in speech.” Apakah kristeria ini hanya dibutuhkan oleh seorang manager top? Tentu saja tidak! Kristeria ini seharusnya dimiliki oleh setiap orang percaya yang sekaligus adalah orang benar.

• Tulus dalam mengucapkan dan menggenapi setiap janjinya.

• Tekun dalam menjalankan segenap tanggung jawabnya.

• Bersih dalam segala urusan keuangannya.

• Setia dalam menunaikan semua pelayanannya

• Jujur dalam setiap perkataanya.

Sama seperti cabe terasa pedas, gula memberi rasa manis, lampu menghadirkan terang, garam memberikan rasa kepada setiap masakan, demikianlah orang percaya seharusnya memiliki integritas. Bedanya adalah cabe, gula dan garam tanpa rasa serta lampu tanpa terang tinggal dibuang saja. Akan tetapi, orang percaya tanpa integritas harus membawa kembali kehidupannya kepada Tuhan yang menciptakannya. Tentunya dengan hati yang sungguh bertobat agar dapat dibaharui dan dipulihkan Tuhan. Barulah dapat diharapkan untuk memiliki karakter-karakter yang unggul—berawal dari integritas!

Ber-Prinsip

Pada awal karirnya, Jean Francois Millet, pelukis besar Perancis, mendedikasikan diri hampir sepenuhnya untuk lukisan-lukisan bugil karena itulah kecenderungan populer pada zaman tersebut. Akan tetapi, pada suatu hari, dia mendengar dari balik jendela, percakapan yang kotor dari beberapa pria melihat salah satu lukisannya. Sejak saat itu, dia berketapan hati untuk mempersembahkan bakatnya ke arah yang lain.

Dia dan istrinya pun menjadi miskin, bahkan keduanya hampir kelaparan; tetapi dengan teguh dia bertahan untuk meninggalkan semua seni bugil dan melukis thema-thema tradisional. Apa yang semula seolah-olah akan membawanya kepada kelaparan ternyata membuatnya menjadi sedemikian terkenal, sehingga tak terhapuskan dari sejarah manusia. Dia dikenal sebagai “Pelukis tradisonal”. Beberapa lukisan terkenalnya adalah “Sang Penabur”, “Sang Pengumpul Berkas Gandum”, “Sang Gembala”, “Kematian dan Pemotong Kayu”, dan “Sang Pemukul Lonceng.” Lukisan terakhir bahkan disebut-sebut sebagai asset berharga dunia.

Itulah karakter unggul yang kedua: ber-prinsip—berpegang teguh pada prinsip yang benar walaupun harus menolak berbagai kesenangan sesaat yang ditawarkan dunia. Daniel telah memberi teladan yang sangat baik karena “berketapan untuk tidak menajiskan dirinya”. Dia harus menolak santapan raja dan anggur yang biasa diminum raja walaupun sangat lezat dan penuh gizi. Dia memohon agar diizinkan untuk hanya makan sayur dan air. Satu pilihan yang secara logis akan menyeret mereka kepada kelemahan fisik dan kebodohan serta kegagalan dalam pendidikan. Akan tetapi, Allah memberkati mereka secara khusus, sehingga ketika tiba waktu pengujian, langsung di hadapan Nebukadnezzar, hasilnya adalah, “Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian yang ditanyakan kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas daripada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya” (ay 20).

Seseorang telah mengingatkan dengan baik, “It is not enough for a gardener to love flowers, he muast also hate weeds.” Demikian juga orang percaya yang baik, dia bukan hanya mencintai kebenaran, tetapi juga membenci kecemaran. Tidak perlu kuatir akan masa depan karena sesungguhnya berkat dan keberhasilan itu berasal dari Allah.

Cerdik & Bijaksana

Cuaca tidaklah selalu cerah, ada saatnya mendung, hujan bahkan badai. Situasi tidak selalu baik dan terkendali, berulang kali kita diperhadapkan kepada situasi-situasi buruk. Orang-orang yang kita jumpai tidaklah selalu manis. Terkadang atau mungkin seringkali, kita harus berhadapan dengan orang-orang yang tak masuk akal, aneh, kasar bahkan kejam.

Lihatlah Daniel dan ketiga kawannya! Mereka berada di bawah kekuasaan Nekadnezzar—seorang raja yang nyentrik dan keji. Ia bermimpi dan meminta orang-orang bijaksana untuk memberitahukan mimpi berikut penafsirannya. Ketika mereka tidak mampu, dia mengeluarkan titah untuk membinasakan semua orang bijaksana di Babel, termasuk Daniel dan ketiga kawannya. Daniel menjumpai dan bertanya kepada Ariokh, kepala algojo tersebut, dengan “cerdik dan bijaksana.” Bagaikan dua sisi mata uang, keduanya berkaitan sangat erat dan tidak terpisahkan:

• Cerdik berarti “cepat untuk mempelajari dan mengerti baik orang baru, maupun pelajaran baru dan perkembangan baru.”

• Bijaksana berarti “mampu untuk berkata dan bertindak dengan tepat, sehingga situasi yang lebih buruk dapat dicegah, bahkan diarahkan kepada situasi yang lebih baik dan semakin baik.

Theodore Roosevelt mengatakan “Kebijaksanaan adalah 90% menunjuk hal menjadi bijaksana pada waktunya” sementara banyak orang seringkali menjadi ‘bijaksana’ setelah peristiwanya berlalu. Tidak terhindarkan jika kemudian,

• Masalah kecil menjadi besar & masalah besar menemui jalan buntu.

• Peluang kecil terabaikan & peluang besar berlalu begitu saja.

• Sahabat lama semakin berkurang & sahabat baru tidak terjalin.

Sebaliknya, bagi orang percaya yang cerdik dan bijaksana, maka

• Masalah jadi sarana untuk bertumbuh dewasa.

• Ancaman jadi pendorong untuk bergantung kepada Tuhan.

• Musuh jadi obyek untuk mengungkapkan kasih Allah.

Siapa yang ingin memiliki karakter ini? Hiduplah senantiasa dalam hadirat Tuhan karena karakter ini bersumber dan memancar dari hikmat Allah sendiri.

Disiplin

Di tengah ancaman eksekusi massal, Daniel mengajak tiga sahabatnya, yaitu: Hananya, Misael dan Azarya untuk “memohon kasih sayang kepada Allah semesta langit” mengenai rahasia mimpi itu. Tidak tersirat ada kepanikan atau usaha untuk melarikan diri dalam tindakan mereka. Satu ekspresi dari penguasaan diri yang adalah buah dari hidup yang berdisiplin.

Jelas sekali bahwa mereka menghampiri Allah bukan hanya dalam keadaan darurat, melainkan secara tetap dan teratur. Pada kesempatan yang lain, pejabat-pejabat yang dengki atas keberhasilan Daniel mengatur satu penyusunan undang-undang agar siapa pun yang “menyampaikan permohonan” kepada dewa atau Allah lain, kecuali kepada raja, akan “dilemparkan ke gua singa.” Bagaimana reaksi Daniel? Panik atau berusaha untuk melarikan diri? Sama sekali tidak! Disaksikan dengan kuat sekali dalam Daniel 6:11,

“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem, tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”

Ingatlah bahwa discipline (disiplin) dan disciple (murid) berasal dari akar kata yang sama. Mereka yang berdisiplin sajalah yang dapat menjadi murid Tuhan yang baik. Oswald Sanders, dengan sangat yakin menyatakan:

• Masa depan itu berpihak kepada orang yang berdisiplin.

• Tanpa disiplin, semua karakter yang lain tidak akan pernah mencapai potensi maksimalnya.

• Hanya pribadi yang berdisiplin yang dapat mengembangkan kapasitas dirinya secara oiptimal.

Demonstrasi kehidupan Daniel dan ketiga kawannya bahkan mengajarkan lebih lanjut:

• Hanya pribadi yang berdisiplin yang dapat mengerti betapa besarnya kuasa Allah, jauh melampaui kuasa siapa pun yang harus kita hadapi.

• Hanya pribadi yang berdisiplin yang dapat mempercayai betapa kuatnya perlindungan Allah, jauh melampaui ancaman seburuk apa pun.

Disiplinlah yang mempertemukan Daniel dengan Allah yang mampu menyingkapkan mimpi yang terselubung, sehingga mereka bebeserta dengan banyak orang yang lain terluput dari bencana.

Setia Kawan

Di puncak gunung Pyrenees Spanyol, para pendaki dapat menjumpai kambing-kambing gunung yang besar, tetapi gerakannya lambat sekali karena sudah berusia lanjut. Walaupun demikian, mereka hampir selalu terhindar dari tembakan para pemburu. Mengapa? Karena dia memiliki seorang teman, seekor kambing muda, yang mengikuti dari belakang dan memberikan peringatan ketika ada bahaya.

Badak mempunyai pandangan yang sangat buruk. Akan tetapi, kulit yang tebal dan berkerut-kerut adalah sarang ideal bagi serangga. Serangga-serangga ini mengundang sejenis burung kecil untuk bertengger di punggung sang badak sambil menikmati serangga kesukaannya dan sekaligus membunyikan tanda bahaya jika ada musuh.

Ada sejenis beruang dan sejenis burung yang sama-sama menyukai madu. Seringkali mereka pergi bersama. Sang burung mempunyai mata yang sangat tajam, sehingga dengan cepat dapat menunjukkan di mana ada sarang lebah yang bermadu dan sang beruang mempunyai cakar yang sangat tajam untuk merobek sarang lebah tersebut, sehingga keduanya dapat menikmati madu bersama-sama.

Semua itu dipertontonkan Allah untuk mengingatkan manusia betapa pentingnya menjaga dan mengembangkan persahabatan. Banyak orang sepakat bahwa kekayaan dan kekuasaan itu sering memabukkan. Tanah Parahyangan mengenal legenda si Boncel, anak miskin yang ketika sudah menjadi bupati, bukan hanya melupakan sahabat-sahabatnya, tetapi juga ibu kandungnya. Akan tetapi, Daniel tidak demikian, dia seorang yang sungguh setia kawan. Ketika Daniel mengungkapkan rahasia mimpi Nebukadnezzar, sehingga sang raja menganugrahinya “dengan banyak pemberian yang besar, dan dibuatnya dia menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel . . .” (ay 48). Langsung diceritakan lebih lanjut, “Atas permintaan Daniel, raja menyerahkan pemerintahan wilayah Babel itu kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sedang Daniel sendiri tinggal di istana raja” (ay 49).

Orang percaya yang setia kawan adalah bagaikan “jam yang selalu berdetak dengan konsisten tanpa pernah menjadi terlalu cepat atau terlalu lambat.” Satu pribadi yang selalu dicari dan dinanti-nantikan kehadirannya oleh banyak orang.

Berani

Siapakah di antara kita yang tidak pernah merasa takut? Semoga tidak seorang pun yang akan mengangkat tangan. Jika kita jujur dengan diri sendiri, rasa takut itu selalu ada dalam diri manusia, terkadang kecil, terkadang besar, terkadang pergi tapi selalu datang kembali.

Bagaimana dengan Daniel, apakah singa-singa di gua itu ompong dan lumpuh, sehingga dia sama sekali tidak memiliki rasa takut? Tidak! Ketika Daniel sudah dikeluarkan, lalu para penuduh beserta keluarganya dilemparkan ke gua yang sama. Alkitab menceritakan, “Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka” (Lih Dan 6:25). Bagaimana dengan Sadrakh, Mesakh dan Abednego, apakah dapur yang mereka hadapi itu menghasilkan api yang dingin atau hangat, sehingga mereka tidak merasa takut? Juga tidak! Apinya justru sangat panas, sehingga orang yang mengangkat mereka ke dalam dapur api tsb terbakar mati (Lih Dan 3:22).

Jika memang demikian, apakah sebenarnya yang terjadi? Benarlah pernyataan ini, yaitu: Courage is not the absence of fear; it is the mastery of it. Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego bukannya tidak memiliki rasa takut, melainkan mampu untuk menguasai ketakutannya. Apa rahasianya? Di pekuburan terkenal Westminter Abbey, tergurat di batu nisan Lord Lawrence, di bawah nama dan tanggal kematiannya, “He feared man so little because he feared God so much.” Daniel dan ketiga kawannya sungguh- sungguh takut akan Tuhan, sehingga mereka dapat menguasai rasa takut mereka kepada Ariokh—sang algojo pembantai, api yang dipanaskan tujuh kali lebih tinggi, singa-singa yang muda dan lapar, bahkan juga Nebukhadnezzar yang sangat terkenal kekejamannya.

William Jennings Bryan berseru:

“Never be afraid to stand with the minority which is right, For the minority which is right will one day be the majority; Always afraid to stand with the majority which is wrong, for the majority which is wrong will one day be the minority.”

Sesungguhnya, tidak penting seberapa banyak yang berpihak kepada kita. Selama kita yakin akan kehendak dan pimpinan Allah, mari kita langkahkan kaki terus dengan berani dan tanpa keraguan.

Rendah Hati

Dunia business dipenuhi dengan berbagai pengusaha yang berambisi untuk menjadi yang terbesar. Dunia politik disesaki oleh para politikus yang berjuang untuk menjadi yang tertinggi. Dunia hiburan dijejali oleh aktor dan aktris yang berkompetisi untuk menjadi yang paling terkenal. Dunia kerajaan diwarnai hasrat untuk menjadi yang paling dimuliakan.

Sekarang, simaklah kembali gerak langkah kehidupan Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Betapa mengesankan sebenarnya prestasi pelayanan mereka. Akan tetapi, tak satu kali pun ada indikasi bahwa mereka menyombongkan diri. Dalam setiap peristiwa, secara tidak langsung, tapi kuat sekali, mereka mendeklarasikan: Allah lah yang terbesar, tertinggi, dan teragung serta layak menerima segala kemuliaan.

Inilah karakter unggul yang terakhir tapi bukan yang terkecil: kerendahan hati. Oswald Sanders bahkan tanpa ragu menyatakan, “Humility is the hallmark of the man whom God can use.” Dengan kata lain, semakin rendah hati seseorang, semakin leluasa Allah memakai kehidupannya. Samuel Brengle, seringkali disebut sebagai “Dr Brengle yang Agung”. Akan tetapi, di dalam buku hariannya, dia menulis:

Jika saya nampak besar di hadapan mereka, Tuhan dengan penuh kemurahan menolongku untuk melihat betapa tidak berartinya diri saya tanpa Dia, dan menolong saya tetap kecil di mata saya sendiri. Dia memang memakai saya. Akan tetapi saya tidak berpikir bahwa jika Dia tidak memakai saya, maka pekerjaan tidak akan selesai. Sebuah kapak tidak sepantasnya menyombongkan diri karena sebuah pohon telah ditebang. Kapak itu tidak dapat melakukan apapun tanpa sang penebang kayu. Dialah yang membuat, mengasah dan memakai kapak tersebut. Pada saat dia melemparkannya, kapak itu hanyalah sebuah besi tua. Kiranya saya tidak pernah sampai kehilangan pandangan seperti ini.

Liihatlah Nebukadnezar, dia meninggikan diri setinggi-tingginya, tetapi kemudian direndahkan Tuhan serendah-rendahnya. Di sisi lain, kita melihat Daniel merendahkan diri serendah-rendahnya dan Tuhan meninggikan dia setinggi-tingginya.

Camkanlah sekali lagi, yang lebih menentukan seberapa besar pencapaian hidup seseorang bukanlah jabatannya dalam organisasi, bukan pula jenis karunia Roh-nya, dan bukan juga banyaknya gelar yang disandangnya, melainkan keunggulan karakternya.

Perceraian & Nikah Ulang ?

Posted by STTE at 12:16 AM on April 30, 2009 Comments comments (1)

Selama ini telah tercipta sebuah paradigma bahwa Kematian adalah satu-satunya alasan bagi Suami/Istri untuk dapat menikah kembali. Paradigma ini adalah sebuah HARGA MATI yang tidak bisa ditawar-tawar.

 

Tetapi apakah pandangan tersebut Alkitabiah???

 

Sebuah Kajian Teologis yang dipresentasikan oleh Pdt. Ekaputra Tupamahu, MA., MDiv dalam Rapat Majelis Pusat Gereja Sidang?Sidang Jemaat Allah di Indonesia (13?16 Januari 2009), mengundang kita untuk berdiskusi untuk menambah wawasan.(download)

 

Pembaca juga diharapkan untuk mengkritisi pandangan dari Sdr. Hendra Mulyana (hemusu@yahoo.com) yang pada tanggal 30 September 2009 telah memberikan tanggapan kritis atas kajian tersebut. (download)

 

 


View Older Posts »

Rss_feed

Welcome

Recent Blog Entries

Upcoming Events

No upcoming events

Newest Members

 

Recent Forum Posts

Recent Photos

 

eBible Search

Enter a verse or keywords
(John 3:16, love, sword of the spirit)

Daily Verses